Home » » Kesadaran Massa

Kesadaran Massa

Written By Redaksi on Rabu, 18 Desember 2013 | 14.03



Kesadaran Massa

 


Salah satu klaim yang paling banyak diajukan oleh sebuah organisasi kiri adalah bahwa dirinya memegang tongkat kepemimpinan atas kesadaran massa. Vanguard, istilahnya. Vanguard adalah kata bahasa Inggris untuk avant-garde, sebuah istilah Perancis yang berarti “pasukan garis depan”, yaitu pasukan yang paling dahulu berhadapan dengan musuh, dan yang menentukan apakah seluruh pasukan dapat maju ataukah harus terpukul mundur.
Tulisan ini ditujukan untuk mengkritisi konsepsi tentang vanguard yang selama ini digenggam oleh gerakan kiri, terutama di Indonesia.
Mengapa hal ini penting untuk dilakukan? Karena pemahaman yang tepat terhadap konsepsi ini sangatlah menentukan untuk ketepatan strategi-taktik yang dirumuskan. Kita ini, harus diakui, adalah minoritas di tengah dunia. Percobaan sosialisme terbesar di dunia, Uni Sovyet, telah rubuh ambruk dan menjadi amunisi bagi para propagandis kapitalis untuk menjelek-jelekkan sosialisme. Kekuatan sosialis terbesar di Indonesia sebelum 1965, PKI, telah jatuh ke dalam blunder politik yang paling buruk yang dapat dipikirkan – dan menyeret seluruh Sosialisme Indonesia ke dalam lumpur kehinaan. Dan untuk bangkit dari keadaan ini, kita perlu memahami bagaimana hubungan antara kesadaran massa dengan para “pemimpin garis depannya”. Tanpa pemahaman ini, kita akan jatuh lagi dan lagi pada kesalahan yang sama.
Konsep tentang vanguard ini berkait erat dengan konsepsi tentang kesadaran massa karena massa hanya berlawan jika mereka sadar mengapa mereka harus berlawan. Sebuah perlawanan menuntut pengorbanan banyak hal. Waktu, harta, orang-orang yang dicintai bahkan nyawa sendiri. Dan kita tidak mendapatkan penggantian atas apa yang telah kita korbankan itu – kecuali sebuah penghidupan yang lebih baik bagi semua orang, jika menang.
Seorang tukang pukul bekerja karena ia dibayar. Seorang penjaja multilevel marketing berpanas-panas di jalan sambil menenteng whiteboard yang berat karena ingin memperoleh laba. Bahkan seorang politisi bekerja karena ia mendapatkan kekuasaan dari pekerjaannya. Tapi, rakyat hanya akan berlawan kalau mereka sadar mengapa mereka harus berlawan. Kalau orang berlawan karena ia mendapatkan imbalan uang untuk itu, tidaklah ubahnya ia dengan seorang tukang pukul.

Apa itu Kesadaran?

Mereka yang menganggap diri vanguard seringkali menepuk dada bahwa merekalah yang menggenggam “kesadaran termaju” dan, dengan demikian, berhak menjadi hakim atas “kesadaran massa” yang “terbelakang” dan “harus dipimpin”.
Untuk dapat mengkritisi klaim ini, kita harus lebih dahulu membedah dari mana “kesadaran” ini muncul.
Istilah “kesadaran” (consciousness, dalam bahasa Inggris) dalam kosa kata gerakan kiri merujuk pada segala macam hal yang melandasi tata-berpikir seseorang. Dalam istilah filsafat, “kesadaran” adalah sebuah cara pandang atas dunia (Weltanschauung, dalam bahasa Jerman), yakni cara kita memandang hubungan-hubungan yang terjadi antara berbagai hal, peristiwa dan benda yang ada di sekeliling kita. Bahkan juga hubungan yang terjadi antar berbagai pemikiran yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri.
Cara pandang atas dunia ini melandasi segala perilaku kita, nilai-nilai moral kita, cara kita mengekspresikan diri, cara kita berhubungan dengan orang lain, cabang kesenian dan artis yang kita sukai, dsb. Contohnya demikian, jika kita memandang bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara, kita tidak akan dapat menerima syair lagu yang mengatakan, “Seharusnya engkau menjadi perhiasan sangkar maduku.” Atau stereotipe peran perempuan yang dicanangkan melalui sinetron-sinetron dan telenovela. Tingkat kepopuleran lagu tersebut, dan juga berbagai sinetron dan telenovela, menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan tidaklah setara dan tidak boleh dianggap demikian. 
Kalau demikian, apakah kesadaran ini yang paling menentukan? Artinya, kita harus mengubah kesadaran ini agar kondisi masyarakat dapat berubah sesuai yang kita inginkan?
Untuk menjawabnya, kita hanya perlu melihat seorang bayi.[1] Seorang bayi belumlah memiliki kesadaran apapun. Ia tidak memiliki praduga apapun terhadap lingkungannya. Seperti yang kita lihat, seorang bayi masih sepenuhnya dikendalikan oleh insting primitif, yang diwarisi manusia dari sejarah evolusinya – seperti gerak refleksnya untuk mencari puting susu ibunya ketika ia lapar. Namun, ia juga tidak dapat membedakan satu perempuan dari perempuan lainnya. Sehingga, di masa lalu setidaknya, ada profesi yang disebut inang susu, yakni ketika ibu-ibu kaya menitipkan anaknya untuk disusui oleh perempuan lain yang kebetulan juga tengah memiliki anak bayi.
Namun, perlahan-lahan si bayi akan mampu membedakan berbagai hal yang ada di sekitarnya. Ia mulai dengan memasukkan segala benda ke dalam mulutnya untuk dilihat apakah benda itu bisa dimakannya atau tidak. Dengan tuntutan instingnya untuk bertahan hidup, yakni untuk makan, ia mulai menjelajahi dunia di sekitarnya dan membentuk ide-idenya yang pertama: apa yang dapat dimakan dan apa yang tidak. Ia juga mulai belajar membedakan bunyi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh bunyi-bunyian itu pada lingkungannya. Ibu-ibu yang pernah atau sedang memiliki anak bayi pasti tahu bahwa sejalan dengan bertambahnya usia si bayi, tangisannya semakin mengandung banyak arti. Si bayi telah memiliki kehendak, dan ia tahu kehendaknya dapat ia capai ketika ia menangis.
Ini adalah bentuk-bentuk kesadaran manusia yang pertama.
Dan dari sini, kita tahu bahwa kesadaran itu tumbuh dari interaksi antara si bayi dengan lingkungannya. Lingkungan itulah yang membentuk kesadarannya.
Lebih jauh lagi, seorang anak kecil biasanya tidak memiliki prasangka apapun. Kita tentu masih ingat bagaimana kita dapat tetap berlaku riang-gembira baik di bawah guyuran hujan maupun sengatan terik matahari ketika kita kecil. Dan kita tahu pula bahwa semakin sering kita mandi hujan, semakin biasa kita dengan hujan dan kita tidak mudah sakit karena guyuran hujan. Namun, kini banyak dari kita yang enggan berterik-terik karena kita takut hitam. Karena kita telah diberitahu bahwa kulit yang putih itu lebih cantik daripada yang hitam.
Prasangka tidaklah kita warisi lewat keturunan kita, melainkan diajarkan pada kita.[2]  Dan seluruh rangkaian pelajaran itu merupakan lingkungan yang membungkus sejarah kehidupan kita.
Kalau demikian, mana yang lebih menentukan: kesadaran atau kondisi sosial? Jawabannya tidak sesederhana itu, Bung.
Karena begitu si bayi memiliki kesadaran, seperti kita lihat di atas, ia juga akan memiliki kehendak. Dan dari kesadarannya, ia dapat menggali satu taktik untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya itu. Ia melakukan sesuatu untuk mempengaruhi lingkungannya agar berubah sesuai kehendaknya. Kita tahu bahwa sekali seorang anak mendapatkan kehendaknya dengan menangis, ia akan terus menangis dan menjadi anak yang diberi label “cengeng”. Namun, ketika seorang anak tidak mendapatkan apa yang dikehendakinya dengan jalan menangis, ia akan berhenti menangis dan mencoba mencari cara lain untuk mewujudkan kehendaknya itu. Kita tentu masih ingat akan berbagai taktik yang kita coba di masa kecil untuk mendapatkan uang jajan, misalnya, atau untuk mendapatkan tambahan waktu menonton tivi.
Kesadaran memang berawal dari kondisi sosial. Namun begitu bergulir, kesadaran dan kondisi sosial saling mempengaruhi dengan ketat, saling menyaratkan dan saling menentukan satu dengan lainnya. Inilah salah satu persoalan yang paling sulit dalam dialektika, yakni ketika dua hal yang bertentangan satu dengan lainnya ternyata saling tergantung. Yang satu tidak akan ada tanpa yang lain, yang satu tidak akan dapat hidup tanpa yang lain. Yang satu berubah sejalan dengan perubahan yang lain.
Ada kondisi-kondisi sosial tertentu yang membatasi perkembangan kesadaran sosial seorang manusia. Sebaliknya, ada batasan-batasan tertentu yang dikenakan oleh kesadaran manusia terhadap kemungkinan terjadinya sebuah perubahan kondisi sosial. Hal-hal yang saling bertentangan, pada saat bersamaan saling menyaratkan dan saling menentukan.

Kesadaran pribadi vs kesadaran kolektif

Ada masalah lain yang muncul dalam persoalan kesadaran ini.
Kita dapat melihat, misalnya, bahwa kita secara pribadi tidaklah berpandangan begitu buruk terhadap orang-orang atau kebudayaan Cina. Saya dapat memastikan bahwa setiap dari kita memiliki setidaknya seorang sahabat beretnik Cina. Banyak dari kita yang juga menggemari buku-buku Kho Ping Hoo dan menonton film kungfu. Namun, ajaibnya, kerusuhan anti-Cina merupakan salah satu ancaman serius bagi stabilitas politik dan sosial di negeri ini.
Contoh lainnya adalah tentara. Tentu kita maklum bahwa di antara mereka yang ada di lapangan melakukan represi yang keras terhadap gerakan demokrasi, para tukang siksa di markas-markas rahasia tentara dan bahkan di antara para jenderal, terdapat orang-orang (mungkin malah banyak) yang secara pribadi merupakan orang-orang yang baik, ramah bahkan (mungkin pula) jujur dan lurus hati. Namun, ketika mereka memakai seragam, segala atribut itu lenyap dan berganti dengan kesiapan mengayunkan pemukul atau menembakkan senapan.
Kita lihat di sini contoh-contoh kesenjangan yang tajam antara apa yang menjadi pandangan pribadi dengan apa yang menjadi kesadaran kelompok.
Ada perbedaan skala di sini. Perbedaan skala ini ternyata menentukan pula tingkatan kesadaran orang. Ternyata kita tidak dapat begitu saja memperbesar skala penilaian kita tanpa perlu mendapatkan penyimpangan terhadap hasil pengukurannya. Kesadaran manusia bukanlah persoalan fraktal[3] dalam matematika.
Dan ini ternyata mematuhi hukum dialektika yang lain: bahwa yang keseluruhan selalu lebih besar daripada penjumlahan bagian-bagiannya. Dengan kata lain, 1 + 1 akan selalu lebih besar daripada 2. Kita pasti mengenal pula anekdot ini: “Apa hasilnya jika satu orang penakut berjalan dengan satu orang penakut yang lain? Dua orang setengah takut.”
Ketika orang berkumpul sebagai satu kesatuan, ada perubahan kualitas di sana. Interaksi di antara mereka menjadi lebih intensif, proses saling mempengaruhi berjalan lebih kuat, dll. Itulah sebabnya kita harus dapat membedakan skala pengukuran kita dan tidak mencampuradukkan hasil pengukuran yang dilakukan dalam skala-skala yang berbeda-beda.
Pemahaman terhadap skala pengukuran kita akan menentukan skala kerja kita. Dan pemahaman akan skala kerja kita akan menentukan dalam penyusunan strategi-taktik kita.

Kesadaran Kelas

Ketika kita bicara tentang kumpulan masyarakat yang kita sebut “kelas”, tentunya kita harus memandangnya sebagai satu kesatuan, sebagai sebuah kelompok, kolektif.
Kemampuan kita membedakan mana yang menjadi kesadaran anggota-anggota kelompok itu, dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya secara pribadi, dengan demikian, haruslah dibedakan dengan apa yang menjadi kesadaran kelompok itu, dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya secara kolektif. Hal yang tidak selalu mudah untuk dilakukan.
Di sinilah kita harus memperhatikan bahwa apa yang menjadi kesadaran kelas akan ditentukan oleh sifat hubungan yang terjadi antara kelas-kelas dalam masyarakat. Kelas mana yang menggenggam alat untuk membangun kesadaran akan mendominasi kesadaran kelas-kelas masyarakat yang lain.[4] Sederhana saja, kelas yang memegang alat-alat ini akan dengan mudah mengubah lingkungan sosial agar sesuai dengan citra yang dipegangnya mengenai hubungan antar kelas. Jelas bahwa kelas yang menggenggam kekuasaan politik akan juga mendapatkan lebih banyak akses pada alat-alat yang dapat membangun kesadaran ini.
Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa pandangan kita tentang apa yang adil, apa yang baik dan apa yang jujur, akan sangat terpengaruh dengan kondisi-kondisi yang diciptakan oleh kelas yang berkuasa.

Dan tidak seorangpun, tidak juga mereka yang menganggap diri vanguard, yang mampu melepaskan diri sepenuhnya dari kondisi yang diciptakan oleh kelas berkuasa ini.


[1] Uraian di sini diilhami oleh pemikiran Piaget, seorang ahli perkembangan anak, seperti dikutip oleh Grant dan Woods, Reason in Revolt, WellRed Books, 1995, pada bab 13.
[2] Ini juga sebetulnya lirik lagu. Diambil dari salah satu lagu dari kelompok rock Anthrax, yang saya lupa judulnya, “Prejudice is not inherited, it’s taught.”
[3] Fraktal adalah cabang ilmu matematika yang mempelajari pembentukan pola yang berulang secara persis tidak peduli skala perbesaran atau pengecilannya.
[4] Gramsci menyebutnya sebagai “hegemoni” dan sering orang mengira bahwa ia sedang mengritik Marx ketika ia menciptakan istilah ini. Padahal Marx telah menuliskan konsepsi ini dalam The German Ideology, hanya saja Marx tidak memberi istilah khusus pada kondisionalitas ini.

0 komentar :

Posting Komentar

GP ANSOR KOTA PAREPARE

GP ANSOR KOTA PAREPARE