Kesadaran Massa
Salah satu
klaim yang paling banyak diajukan oleh sebuah organisasi kiri adalah bahwa
dirinya memegang tongkat kepemimpinan atas kesadaran massa. Vanguard, istilahnya. Vanguard adalah kata bahasa Inggris
untuk avant-garde, sebuah istilah Perancis
yang berarti “pasukan garis depan”, yaitu pasukan yang paling dahulu berhadapan
dengan musuh, dan yang menentukan apakah seluruh pasukan dapat maju ataukah
harus terpukul mundur.
Tulisan ini
ditujukan untuk mengkritisi konsepsi tentang vanguard yang selama ini digenggam
oleh gerakan kiri, terutama di Indonesia.
Mengapa hal
ini penting untuk dilakukan? Karena pemahaman yang tepat terhadap konsepsi ini
sangatlah menentukan untuk ketepatan strategi-taktik yang dirumuskan. Kita ini,
harus diakui, adalah minoritas di tengah dunia. Percobaan sosialisme terbesar
di dunia, Uni Sovyet, telah rubuh ambruk dan menjadi amunisi bagi para
propagandis kapitalis untuk menjelek-jelekkan sosialisme. Kekuatan sosialis
terbesar di Indonesia sebelum 1965, PKI, telah jatuh ke dalam blunder politik
yang paling buruk yang dapat dipikirkan – dan menyeret seluruh Sosialisme
Indonesia ke dalam lumpur kehinaan. Dan untuk bangkit dari keadaan ini, kita
perlu memahami bagaimana hubungan antara kesadaran massa dengan para “pemimpin
garis depannya”. Tanpa pemahaman ini, kita akan jatuh lagi dan lagi pada
kesalahan yang sama.
Konsep tentang vanguard ini berkait erat dengan konsepsi
tentang kesadaran massa karena massa hanya berlawan jika mereka sadar mengapa
mereka harus berlawan. Sebuah perlawanan menuntut pengorbanan banyak hal.
Waktu, harta, orang-orang yang dicintai bahkan nyawa sendiri. Dan kita tidak
mendapatkan penggantian atas apa yang telah kita korbankan itu – kecuali sebuah
penghidupan yang lebih baik bagi semua orang, jika menang.
Seorang
tukang pukul bekerja karena ia dibayar. Seorang penjaja multilevel marketing berpanas-panas di jalan sambil menenteng whiteboard yang berat karena ingin
memperoleh laba. Bahkan seorang politisi bekerja karena ia mendapatkan
kekuasaan dari pekerjaannya. Tapi, rakyat hanya akan berlawan kalau mereka
sadar mengapa mereka harus berlawan. Kalau orang berlawan karena ia mendapatkan
imbalan uang untuk itu, tidaklah ubahnya ia dengan seorang tukang pukul.
Apa itu Kesadaran?
Mereka yang
menganggap diri vanguard seringkali menepuk dada bahwa merekalah yang
menggenggam “kesadaran termaju” dan, dengan demikian, berhak menjadi hakim atas
“kesadaran massa” yang “terbelakang” dan “harus dipimpin”.
Untuk dapat
mengkritisi klaim ini, kita harus lebih dahulu membedah dari mana “kesadaran”
ini muncul.
Istilah
“kesadaran” (consciousness, dalam
bahasa Inggris) dalam kosa kata gerakan kiri merujuk pada segala macam hal yang
melandasi tata-berpikir seseorang. Dalam istilah filsafat, “kesadaran” adalah
sebuah cara pandang atas dunia (Weltanschauung,
dalam bahasa Jerman), yakni cara kita memandang hubungan-hubungan yang terjadi
antara berbagai hal, peristiwa dan benda yang ada di sekeliling kita. Bahkan
juga hubungan yang terjadi antar berbagai pemikiran yang dikembangkan oleh
manusia itu sendiri.
Cara pandang
atas dunia ini melandasi segala perilaku kita, nilai-nilai moral kita, cara
kita mengekspresikan diri, cara kita berhubungan dengan orang lain, cabang
kesenian dan artis yang kita sukai, dsb. Contohnya demikian, jika kita
memandang bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara, kita tidak akan dapat
menerima syair lagu yang mengatakan, “Seharusnya engkau menjadi perhiasan
sangkar maduku.” Atau stereotipe peran perempuan yang dicanangkan melalui
sinetron-sinetron dan telenovela. Tingkat kepopuleran lagu tersebut, dan juga
berbagai sinetron dan telenovela, menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat
Indonesia masih memiliki kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan tidaklah
setara dan tidak boleh dianggap demikian.
Kalau
demikian, apakah kesadaran ini yang paling menentukan? Artinya, kita harus
mengubah kesadaran ini agar kondisi masyarakat dapat berubah sesuai yang kita
inginkan?
Untuk
menjawabnya, kita hanya perlu melihat seorang bayi.[1]
Seorang bayi belumlah memiliki kesadaran apapun. Ia tidak memiliki praduga
apapun terhadap lingkungannya. Seperti yang kita lihat, seorang bayi masih
sepenuhnya dikendalikan oleh insting primitif, yang diwarisi manusia dari
sejarah evolusinya – seperti gerak refleksnya untuk mencari puting susu ibunya
ketika ia lapar. Namun, ia juga tidak dapat membedakan satu perempuan dari
perempuan lainnya. Sehingga, di masa lalu setidaknya, ada profesi yang disebut
inang susu, yakni ketika ibu-ibu kaya menitipkan anaknya untuk disusui oleh
perempuan lain yang kebetulan juga tengah memiliki anak bayi.
Namun,
perlahan-lahan si bayi akan mampu membedakan berbagai hal yang ada di
sekitarnya. Ia mulai dengan memasukkan segala benda ke dalam mulutnya untuk
dilihat apakah benda itu bisa dimakannya atau tidak. Dengan tuntutan instingnya
untuk bertahan hidup, yakni untuk makan, ia mulai menjelajahi dunia di
sekitarnya dan membentuk ide-idenya yang pertama: apa yang dapat dimakan dan
apa yang tidak. Ia juga mulai belajar membedakan bunyi dan segala akibat yang
ditimbulkan oleh bunyi-bunyian itu pada lingkungannya. Ibu-ibu yang pernah atau
sedang memiliki anak bayi pasti tahu bahwa sejalan dengan bertambahnya usia si
bayi, tangisannya semakin mengandung banyak arti. Si bayi telah memiliki
kehendak, dan ia tahu kehendaknya dapat ia capai ketika ia menangis.
Ini adalah
bentuk-bentuk kesadaran manusia yang pertama.
Dan dari
sini, kita tahu bahwa kesadaran itu tumbuh dari interaksi antara si bayi dengan
lingkungannya. Lingkungan itulah yang membentuk kesadarannya.
Lebih jauh
lagi, seorang anak kecil biasanya tidak memiliki prasangka apapun. Kita tentu
masih ingat bagaimana kita dapat tetap berlaku riang-gembira baik di bawah
guyuran hujan maupun sengatan terik matahari ketika kita kecil. Dan kita tahu
pula bahwa semakin sering kita mandi hujan, semakin biasa kita dengan hujan dan
kita tidak mudah sakit karena guyuran hujan. Namun, kini banyak dari kita yang
enggan berterik-terik karena kita takut hitam. Karena kita telah diberitahu
bahwa kulit yang putih itu lebih cantik daripada yang hitam.
Prasangka
tidaklah kita warisi lewat keturunan kita, melainkan diajarkan pada kita.[2] Dan seluruh rangkaian pelajaran itu merupakan
lingkungan yang membungkus sejarah kehidupan kita.
Kalau
demikian, mana yang lebih menentukan: kesadaran atau kondisi sosial? Jawabannya
tidak sesederhana itu, Bung.
Karena begitu
si bayi memiliki kesadaran, seperti kita lihat di atas, ia juga akan memiliki
kehendak. Dan dari kesadarannya, ia dapat menggali satu taktik untuk
mendapatkan apa yang dikehendakinya itu. Ia melakukan sesuatu untuk
mempengaruhi lingkungannya agar berubah sesuai kehendaknya. Kita tahu bahwa
sekali seorang anak mendapatkan kehendaknya dengan menangis, ia akan terus
menangis dan menjadi anak yang diberi label “cengeng”. Namun, ketika seorang
anak tidak mendapatkan apa yang dikehendakinya dengan jalan menangis, ia akan
berhenti menangis dan mencoba mencari cara lain untuk mewujudkan kehendaknya
itu. Kita tentu masih ingat akan berbagai taktik yang kita coba di masa kecil
untuk mendapatkan uang jajan, misalnya, atau untuk mendapatkan tambahan waktu
menonton tivi.
Kesadaran
memang berawal dari kondisi sosial. Namun begitu bergulir, kesadaran dan
kondisi sosial saling mempengaruhi dengan ketat, saling menyaratkan dan saling
menentukan satu dengan lainnya. Inilah salah satu persoalan yang paling sulit
dalam dialektika, yakni ketika dua hal yang bertentangan satu dengan lainnya
ternyata saling tergantung. Yang satu tidak akan ada tanpa yang lain, yang satu
tidak akan dapat hidup tanpa yang lain. Yang satu berubah sejalan dengan
perubahan yang lain.
Ada
kondisi-kondisi sosial tertentu yang membatasi perkembangan kesadaran sosial
seorang manusia. Sebaliknya, ada batasan-batasan tertentu yang dikenakan oleh
kesadaran manusia terhadap kemungkinan terjadinya sebuah perubahan kondisi
sosial. Hal-hal yang saling bertentangan, pada saat bersamaan saling
menyaratkan dan saling menentukan.
Kesadaran pribadi vs kesadaran kolektif
Ada masalah
lain yang muncul dalam persoalan kesadaran ini.
Kita dapat
melihat, misalnya, bahwa kita secara pribadi tidaklah berpandangan begitu buruk
terhadap orang-orang atau kebudayaan Cina. Saya dapat memastikan bahwa setiap
dari kita memiliki setidaknya seorang sahabat beretnik Cina. Banyak dari kita
yang juga menggemari buku-buku Kho Ping Hoo dan menonton film kungfu. Namun,
ajaibnya, kerusuhan anti-Cina merupakan salah satu ancaman serius bagi
stabilitas politik dan sosial di negeri ini.
Contoh
lainnya adalah tentara. Tentu kita maklum bahwa di antara mereka yang ada di
lapangan melakukan represi yang keras terhadap gerakan demokrasi, para tukang
siksa di markas-markas rahasia tentara dan bahkan di antara para jenderal,
terdapat orang-orang (mungkin malah banyak) yang secara pribadi merupakan
orang-orang yang baik, ramah bahkan (mungkin pula) jujur dan lurus hati. Namun,
ketika mereka memakai seragam, segala atribut itu lenyap dan berganti dengan
kesiapan mengayunkan pemukul atau menembakkan senapan.
Kita lihat di
sini contoh-contoh kesenjangan yang tajam antara apa yang menjadi pandangan
pribadi dengan apa yang menjadi kesadaran kelompok.
Ada perbedaan
skala di sini. Perbedaan skala ini ternyata menentukan pula tingkatan kesadaran
orang. Ternyata kita tidak dapat begitu saja memperbesar skala penilaian kita
tanpa perlu mendapatkan penyimpangan terhadap hasil pengukurannya. Kesadaran
manusia bukanlah persoalan fraktal[3]
dalam matematika.
Dan ini
ternyata mematuhi hukum dialektika yang lain: bahwa yang keseluruhan selalu
lebih besar daripada penjumlahan bagian-bagiannya. Dengan kata lain, 1 + 1 akan
selalu lebih besar daripada 2. Kita pasti mengenal pula anekdot ini: “Apa
hasilnya jika satu orang penakut berjalan dengan satu orang penakut yang lain?
Dua orang setengah takut.”
Ketika orang
berkumpul sebagai satu kesatuan, ada perubahan kualitas di sana. Interaksi di
antara mereka menjadi lebih intensif, proses saling mempengaruhi berjalan lebih
kuat, dll. Itulah sebabnya kita harus dapat membedakan skala pengukuran kita
dan tidak mencampuradukkan hasil pengukuran yang dilakukan dalam skala-skala
yang berbeda-beda.
Pemahaman
terhadap skala pengukuran kita akan menentukan skala kerja kita. Dan pemahaman
akan skala kerja kita akan menentukan dalam penyusunan strategi-taktik kita.
Kesadaran Kelas
Ketika kita
bicara tentang kumpulan masyarakat yang kita sebut “kelas”, tentunya kita harus
memandangnya sebagai satu kesatuan, sebagai sebuah kelompok, kolektif.
Kemampuan
kita membedakan mana yang menjadi kesadaran anggota-anggota kelompok itu, dan
faktor-faktor apa yang mempengaruhinya secara pribadi, dengan demikian,
haruslah dibedakan dengan apa yang menjadi kesadaran kelompok itu, dan
faktor-faktor apa yang mempengaruhinya secara kolektif. Hal yang tidak selalu
mudah untuk dilakukan.
Di sinilah
kita harus memperhatikan bahwa apa yang menjadi kesadaran kelas akan ditentukan
oleh sifat hubungan yang terjadi antara kelas-kelas dalam masyarakat. Kelas
mana yang menggenggam alat untuk membangun kesadaran akan mendominasi kesadaran
kelas-kelas masyarakat yang lain.[4] Sederhana
saja, kelas yang memegang alat-alat ini akan dengan mudah mengubah lingkungan
sosial agar sesuai dengan citra yang dipegangnya mengenai hubungan antar kelas.
Jelas bahwa kelas yang menggenggam kekuasaan politik akan juga mendapatkan
lebih banyak akses pada alat-alat yang dapat membangun kesadaran ini.
Dengan demikian, kita dapat
memahami bahwa pandangan kita tentang apa yang adil, apa yang baik dan apa yang
jujur, akan sangat terpengaruh dengan kondisi-kondisi yang diciptakan oleh
kelas yang berkuasa.
Dan tidak seorangpun, tidak juga
mereka yang menganggap diri vanguard, yang mampu melepaskan diri sepenuhnya
dari kondisi yang diciptakan oleh kelas berkuasa ini.
[1] Uraian di
sini diilhami oleh pemikiran Piaget, seorang ahli perkembangan anak, seperti
dikutip oleh Grant dan Woods, Reason in
Revolt, WellRed Books, 1995, pada bab 13.
[2] Ini juga
sebetulnya lirik lagu. Diambil dari salah satu lagu dari kelompok rock Anthrax,
yang saya lupa judulnya, “Prejudice is
not inherited, it’s taught.”
[3] Fraktal
adalah cabang ilmu matematika yang mempelajari pembentukan pola yang berulang
secara persis tidak peduli skala perbesaran atau pengecilannya.
[4] Gramsci
menyebutnya sebagai “hegemoni” dan sering orang mengira bahwa ia sedang
mengritik Marx ketika ia menciptakan istilah ini. Padahal Marx telah menuliskan
konsepsi ini dalam The German Ideology,
hanya saja Marx tidak memberi istilah khusus pada kondisionalitas ini.

0 komentar :
Posting Komentar