Gerakan mahasiswa selama ini (konteks indonesia tentunya)
masih dalam keterpurukan baikdari tingkat kampus maupun secara umum mahasiswa
di negara ini (mahasiswa dalam hal ini sebagai kaum intelektual). dimana tidak
adanya keseriusan dalam membangun gerakan mahasiswa yang militan dan mempuanyai
keterhubungan dengan organ-organ lainnya baik organ antara mahasiswa maupun
organ secara luas seperti organisasi serikat buruh, petani, dan masayarakat lainnya
atas Sistem Kapitalisme.
Berbagai peristiwa-peristiwa lahir dianggap suatu yang
wajar ketika bermunculan dalam kondisi saat ini,sulitnya orang mencari sesuap
nasi untuk melanjutkan hidup, mencari pekerjaan, menempuh pendidikan yang
layak, gratis, demokratis dan bervisi kerkyatan adalah salah satu diantara
sekian banyak persoalan yang mendorong kekecewaan publik, belum lagi peristiwa
Korupsi-Kolusi-Nepotisme yang merajalela bahkan telah menjadi budaya birokrasi
negri ini. Rezim pasar bebas, yang kemudian peran negara secara perlahan-lahan
digantikan oleh lembaga-lembaga asing yang sudah jelas hanya mencari profit
dari sumber daya alam negri ini sperti, World Bank,WTO, TNC/MNC, yang semua
mereka rancang habis-habisan untuk keuntungannya tampa memikirkan kerugian bangsa
kita, yang ditaksir lebih dari satu teriliunan perjam.
Dari sejarah pergerakan kemerdekaan indonesia 1945 tidak
bisa dipungkiri bahwa karya daripada gerakan mahasiswa (yang pada saat itu
masih menggunakan nama pemuda) sebagai salah satu penentu dalam proklamasi
kemerdekaan indonesia dengan memaksa soekarno dan hatta untuk mem-proklamasikan
kemerdekaan Republik Inodnesia 17 Agustus 1945. Kita tidak hanya memulai
keberhasilan gerakan mahasiswa/pemuda dari pasca penculikan Soekarno dan Hatta
tentang gerakan mahasiswa, jauh sebelum itu setelah masuknya negara-negara
penjajah yang kemudian memberikan kesempatan pada kaum pribumi untuk mengenyam
pendidikan yang dikenal sebagai politik etis (politik balas budi) sebut saja
pergerakan nasional Boedi Oetomo 1908 danPemuda 1928, maka lahirlah
intelektual-intelektual yang dengan kesadaran sebagai warga negara yang sedang
dijajah oleh bangsa lain seperti Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir dan masih
banyak lainnya yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi pendengaran kita.
Akhirnya kaum intelektual ini yang tidak bisa terlepas dan
memang sudah seharusnya membangun kekuatan bersama dengan elemen-elemen,
organisasi-organisasi (masyarakat yang terorganisir) lainnya untuk membangun
gerakan perubahan, maka muncullah pemberontakan-pemberontakan rakyat pada waktu
itu. Pada tahun-tahun pasca kemerdekaan, organisasi mahasiswa telah banyak
dijumpai di internal kampus maupun eksternal kampus. Mahasiswa yang dikenal sebagai
penyambung lidah rakyat masih sibuk bergelut dalam ruang lingkup internalnya
masing-masing, terperangkap dalam tempurung dengan menjalankan aktifitas yang
kadang tidak produktif serta bersifat pragmatis, elitis, Eksklusif apalagi
diantara mereka asyik dalam membuat kesibukan kompetisi sesama kawan sendiri
yang semestinya dijalani dengan program bersama, sehingga suatu keniscayaan
jika gerakan mahasiswa sebagai insan intelektual terkungkung dalam arogansi
organisasi, serta tegas dalam kritiknya sebagai harimau forum, tergantikan dengan
kecenderungan yang baru, sebagai elit beringasan yang kini tak bertaring lagi.
Pertanyaan yang sekiranya muncul adalah sebuah retorika yang tidak terlalu
membutuhkan jawaban teoritis namun justru membutuhkan kerja praktis dan kongkrit.
Posisi dilematis memang sedang dihadapi oleh kalangan gerakan prodemokasi
terutama gerakan mahasiswa yang sedang dalam keadaan ironis. Perubahan konstelasi
politik yang berubah cepat hampir setiap sepersekian detik, sangat mempengaruhi
kajian dan analisa dari gerakan mahasiswa dan secara tidak langsung sangat
mempengaruhi kinerja dari gerakan mahasiswa. Secara tidak langsung kemudian
timbul sebuah pertanyaan dalam benak kita apa yang harus dilakukan oleh gerakan
mahasiswa ditengah kancah permainan dan manuver borjuasi nasional ini? dan
semakin sulitnya gerakan mahasiswa menemukan jalan persatuan dengan menyatukan
program bersama, dengan tujuan yang sama yaitu anti tehadap kapitalisme, menyelamatkan
budaya-budaya asli Indonesia dan menyujudkan kekuasaan negara atas kaum
tertindas.
Dari perjalanan gerakan mahasiswa akan memunculkan dua
pertanyaan mendasar yaitu: apakah gerakan mahasiswa melebur kedalam gerakan
rakyat seperti organisasi serikat buruh, tani, nelayan,dan kaum tertindas
lainnya, ataukah gerakan mahasiswa ini kembali kedalam kampus untuk mengorganisir
sesama-nya mahasiswa yang dengan kesadaran berlawannya belum terbangun, dengan
strategi kaum mahasiswa yang sadar akan penindasan memasuki UKM-UKM kampus dan
lembaga-lembaga kampus seperti BEM, Himpunan Mahasiswa dan lain sebagainya,
kemudian mengkonsilidasikan diri.? Dari dua pertanyaan tersebut mana yang harus
dilakukan oleh kaum intelektual ini..?dengan pikiran dasar saya mengenai dua
garis bersar dalam gerakan, pergerakan rakyat dan mengepung kampus adalah suatu
gerakan secara bersamaan yang seharusnya dilakukan oleh kaum intelektual yang
mempunyai waktu luang banyak soal pembangunan kesadaran dan waktu luang berfikir
yang banyak pula.
Mahasiswa harus meleburkedalam basis-basis massa rakyat,
menyadarkan massa luas, dan sekaligus mengorganisir mahasiswa-mahasiswa dalam
kampus untuk keluar bersama rakyat untuk menghapus tirani rezim anti demokrasi
ini. Namun amat sangat sulit dilakukan jika mahasiswa membuat garis demarkasi
antara massa rakyat yang berlawan dengan massa mahasiswa yang berlawan karena kesadaran
bahwa dasar dari semua perubahan adalah massa rakyat (kaum buruh, tani,
nelayan, dan massa rakyat tertindas lain-nya) itu tidak terjadi dalam
gerakan-gerakan mahasiswa. Menarik keluar mahasiswa adalah suatu keharusan yang
tak terelakkan lagi. Dengan banyaknya kebijakan pihak kampus juga akan memaksa
mahasiswa-mahasiswa yang kritis ini keluar mengorganisir tetapi tidak
mengabaikan kerja-kerja dalam kampus itu sendiri untuk meninggalkan asal mereka
yaitu kampus.
Dari pertanyaan bahwa mahasiswa harus Kembali Ke Sektor
Kaum Buruh dan Rakyat Tentunya akan ada pertanyaan lanjutan dari pernyataan
ini. Diakui atau tidak bahwa rakyatlah yangpaling menentukan dalam proses
perubahan bangsa ini, dan gerakan untuk kembali ke rakyat harus dimulai dalam
upaya membangun kesadaran politik di kalangan msyarakat bawah “grass root”.
Penyadaran itu dapat dimulai dengan mengadakan
pendampingan-pendampingan pada daerah berkasus seperti kasus yang dialamai kaum
buruh dipabrik, kaum tani di lahan pertanian, nelayan. Dan ini sangat
signifikan untuk dilakukan karena pada dasarnya jiwa perlawanan ada pada setiap
manusia yang mengalami penindasan secara langsung. Namun perlu ditegaskan
disini, pendampingan sekaligus penyadaran politik bukan berarti datang dan
terus menjadi malaikat. Kesadaran yang dibangun bukan denganmemberikan
pendidikan sistematis ataupun pendidikan ala bankir, dimana masyarakat hanya
menerima dan dijejali dengan teori tertentu sebagai upaya penyadaran hak
sebagai warga negara, namun yang lebih mendasar adalah memberikan penyadaran
tentang hak mereka dan selanjutnya menempatkan masyarakat ini sebagai subyek
dari proses pendidikan ini.
Pendidikan ini dikatakan berhasil apabila masyarakat sudah
bisa melepaskan diri dari sikap fatalis menyadan mempunyai mobilitas yang
tinggi serta secara aktif terlibat dalam system politik. Penumbuhan kesadaran
ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya bahaya laten kerinduan terhadap
Orde Baru dan juga hegemoni rezim korporatokrasi, pada akhirnya pendidikan ini
berupaya untuk membuat rakyat memiliki, Goldman, kesadaran real melalui
kesadaran yang sangat memungkinkan (Paulo Freire) yang merupakan intidan dasar
dari sebuah revolusi. Kemudian pertanyaan bahwa mahasiswa harus Kembali Ke
Kampus, Bukan berarti bahwa gerakan kembali kekampus disini sama dengan gerakan
NKK/BKK, tapi berupa penilaian dan refleksiyang sangat obyektif dalam memandang
arah dan pola gerakan mahasiswa. Berkacadari gerakan mahasiswa di daratan Eropa
dan Amerika Latin tahun 60-an, dimanasebagian besar gerakan rakyat tumbuh dari
akumulasi gerakan/ gejolak dalamkampus. Ini seharusnya menjadi acuan yang
sangat mendasar bagi pola gerakan dinegara dunia ketiga khususnya Indonesia.
Kembali kekampus bukan berarti mahasiswa untuk seterusnya
menjadi kutu buku, namun gerakan ini harus mulai membangun kekuatan untuk
sebuah revolusi pendidikan. Mautidak mau harus diakui bahwa menyurutnya gerakan
mahasiswa juga sebagai akibatdari sistem pendidikan Indonesia yang sangat
menindas. Kondisi ini yangsekarang harus mulai didobrak oleh kalangan pro
demokrasi, dan ini telahdilakukan oleh sebagian besar kampus di Indonesia,
namun semua ini barulah padatahapan permukaan belum pada tataran yang lebih
substansional.
Penyadaran tentang hakpolitik mahasiswa dan pemahaman
tentang penindasan negara melalui sistempendidikan harus mulai diinjeksikan
kepada kalangan massa rakyat, mahasiswasebagai upaya membangun kekuatan dan
konsolidasi menghadapi manuver kaumborjuasi nasional. Sehingga dalam kurun
beberapa waktu kedepan bukan sekadarsegelintir aktivis mahasiswa tetapi akan
tumbuh ratusan bahkan ribuan mahasiswayang siap untuk melakukan perubahan.
Dua hal ini sekiranya yangharus dilakukan oleh gerakan
mahasiswa ditengah permainan elit politik sekarangini. Dengan mempertimbangkan
situasi nasional dan psikologis rakyat yang sudahmulai jenuh dengan perjalanan
reformasi total yang belum tuntas dan memang akansulit tuntas jika persatuan
dan pemblejetan atas sikap borjuis nasional danpemerintah nasional
berselingukuh dengan para pemodal asing, sudah seharusnya gerakan mahasiswa
mengubah pola gerak yang ada, namun tetap harus disesuaikandengan kondisi tiap
daerah tertentu. Namun begitu disadari bahwa kondisigeografis Indonesia yang
sebagian besar dibatasi oleh lautan, tidakmemungkinkan melakukan gerakan seperti
mahasiswa di belahan Amerika Latin danEropa dengan pola bola saljunya.
Tetapi terciptanya pandangan atas musuh bersama (common
enemy)dikalangan gerakan mahasiswa terutama di kalangan gerakan mahasiswa yang radikal
sudah semestinya dilakukan untuk sebuah gerakan yang masif. Dengan melakukan
penyadaran di multi sektor yang sama merasakan penindasan, maka suatu saat
dalam sebuah momentum politik yang tepat, maka diyakini akan timbul sebuah perlawanan
dari rakyat yang sadar.
Membangun kekuatan dimana rakyat melakukan perlawanan bukan
atas dasar ajakan tetapi lebih karena sadar akan adanya ketertindasan.
pendidikan adalah sebagai praktik pembebasan keyakinan akan massa yang sadar
dan keyakinan akan sebuah pendidikan pembebasan, (Paulo Freire). maka sudah
seharusnyagerakan mahasiswa tidak ragu-ragu lagi dengan gerakan penyadaran dan pengorganisiran
massa.

0 komentar :
Posting Komentar